Selasa, 22 Desember 2009

EXPLORASI

Karangsari to Cilengkrang
Berawal dari hujan yang membuat ku ngumpul bersama anak-anak, pembicaraan mulai melebar kemana-mana dan tiba-tiba muncul sebuah usulan untuk melakukan ekspedisi, sekalian olah raga dan refreshing sebelum ujian. Memang rada aneh kedengerannya, orang laen refreshing setelah ujian dan kita pergi sebelum ujian. Tanpa persiapan namun penuh kesiapan besoknya kita rencanakan unutk berjalan menyusuri hutan pinus di Taman Nasional Gunung Ciremai.
Dengan semangat yang menggebu buru-buru ku beranjak dari rumah menuju tempat pemberangkatan mobil angkutan desa menuju desa terakhir, sampai-sampai pas menyalakan sebatang rokok baru ku sadar kalau ternyata diriku ini belum sempat makan dan minum dirumah. Kawan-kawan sudah menunggu lama karena ku tidak tepat waktu yang diakibatkan bangun yang kesiangan, Namun mereka tetap semangat. Tak lama menunggu mobil angkutan pun muncul menuju desa terakhir.
Sampai di desa Karangsari yang merupakan star kita untuk berjalan menuju Cilengkrang, sambil meregangkan otot mulai kita mengecek apa saja yang belum ada dan bisa dibeli di warung sekitar. Karena sudah tak sabar langsung ku meluncur memulai perjalanan menyusuri tanjakan yang lumayan melelahkan untuk awal perjalanan yang cukup panjang. Di bawah langit mendung yang membuat cuaca tidak begitu panas, memang cocok untuk perjalanan baru saja berapa ratus meter salah satu kawanku mengajak istirahat dan mengajak mnikmati makanan yang baru saja dibeli, namun tiba-tiba kawanku ini muntah dan lemas. Kecemasanpun menghantui takut tak bisa melanjutkan perjalanan yang cukup panjang untuk seharian ini, namun dengan semangat yang menggebu kita semangati Leri kawan yang satu ini. “putih semua yang terlihat, tak ada warna lain ujar Leri” namun ku terus mengajak untuk melanjutkan perjalanan sebelum penyakit malas datang menghampiri dan mematahkan semangat. Perjalananpun dilanjut kembali setelah menikmati sedikit makanan yang cukup mengganjal perut. Perlahan memang kita berjalan sambil menikmati pemandangan dan sejuknya udara pagi yang mendung ini.
Tak lama akhirnya sampai juga di hutan pinus pertama dan mulai menyusuri jalan setapak yang sudah lama tak ku injak ini. Jaring laba-laba pun terus menerpa muka ku ini, memang jalan ini jarang sekali diguakan oleh mayarakat, datar dan sedikit menanjak jalur ini menuju hutan pinus desa selanjutnya (jambu sagarahiang), mulai kebingungan ketika kenjumpai persimpangan, namun dengan yakin kita ambil salah satu jalan ke kiri menanjak menuju jalan of road. Hamparan yang dulu merupakan hutan pinus yang lebat sekarang sudah sebagian menjadi ladang sayuran yang diolah oleh masyarakat setempat, sungguh menyedihkan menyaksikan hutan ku yang mulai rusak ini akibat konversi lahan dan ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab ini. “Apakah mereka tidak memikirkan dampak selanjutnya” itu yang terlintas didalam pikirku, salah siapa sebenarnya? Apakah masyarakat yang membutuhkan sesuap nasi atau apakah pihak pengelola yang tidak memikirkan nasib masyarakat hutan dan nasib mayarakat sekitar hutan. Seolah tanpa ada penanganan yang serius kegiatan yang merugikan ini terus berlanjut, keadaan seperti ini memang seakan memaksaku untuk berpikir untuk bertindak kedepannya sebagai RIMBAWAN yang wajib peduli terhadap alam lingkungan tanpa mengabaikan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Belum banyak memang hal yang bisa kulakukan dan kuberikan untuk semuanya, namun ini menjadi tanggung jawab semuanya dan harus dipikirkan yang merupakan dari bagian kehidupan yang saling membutuhkan dan ketergantungan. Manusia diberi amanah oleh Tuhan untuk menjaga dan melestarikan alam yang merupakan tempat hidup dan sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk lainnya.
Kembali kita berjalan menyusuri jalan yang mulai banyak persimpangan dengan track yang semakin menantang, dan tanpa disadari ternyata kita sudah salah ambil jalur dan semakin jauh dari jalur yang kita tuju. Jejak satwa kita temukan dari bentuk dan jalurnya jejak ini kelihatannya merupakan jejak dua ekor anjing yang belum lama. Cuaca makin mendung dan hujanpun mulai turun, dengan kebingungan kita mencari jalur ada petani yang sedang mengolah ladang kakek dan nenek dan kami pun menanyakan jalur yang sebenarnya kita tuju, ternya benar kita sudah terlalu menjauh dari jalur. Namun sebagai seorang RIMBAWAN kami tak menyerah untuk melanjutkan perjalanan, jalur yang kita lewatipun sudah makin tak jelas dengan naik turun lembah yang cukup curam. Tak ada kata putus asa dan menyerah kami terus mencari jalur yang sebenarnya walaupun badan sudah basah kuyuk semua terkena hujan yang deras dan membuat jalan menjadi licin. Setelah beberapa lembah kita turuni dan naikin akhirnya jalur yang kita tuju ketemu juga.
Beda orang jelas akan beda pendapat pula, dan di sini kita sudah mulai berbeda pendapat untuk mengambil jalur, dan lagi-lagi kita salah ambil jalur dan rumput-rumput berduri mulai perlahan bersahabat dengan kaki dan tanganku. Kesepakatan bersama segera kita ambil untuk kembali menyusuri jalur utama. Tak pernah terlewatkan memang baik senang maupun susah yang kita lakukan tetap semangat dengan canda dan tawanya. Ini merupakan salah satu jurus untuk menyemangati kita walau suhu tubuh sudah mulai turun dan stamina berkurang karena yang harusnya kita sudah makan siang namun kita masih menyusuri jalan akibat keteledoran kita sendiri.
Akhirnya target kita ke tiga (Situs Lingga Sagarahiang) kita capai juga, sambil istirahat kita masuk dan melihat-lihat situs peninggalan yang diyakini menyimpan sejarah yang cukup penting. Di sini dulu disinyalir di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan pada masa purbakala. Tak lama kita berdiam di Situs ini karena harus berpacu dengan waktu dan mencari tempat untuk makan kita lanjutkan kembali perjalanan, menuju sumber air untuk mengisi persediaan masak dan di jalan. Hutan ini memang menyimpan banyak keindahan, tak jauh dari Situs terdapat air terjun yang cukup kecil namun cukup cantik, dan sesuatupun terjadi kaki dan tanganku terkena tanaman (pulus) yang membuat kulitku gatal dan pedih.
Segera lanjutkan perjalanan setelah cukup puas menikmati keindahan air terjun ini. Tak jauh dari lokasi ini dan mulai terlihat pemandangan yang sangat indah, kita bisa melihat ke bawah dan terlihat jelas indahnya Waduk Darma, sungguh alam ini merupakan anugrah dari Tuhan yang wajib kita manfaatkan dan jaga baik-baik. Namun disisi keindahan ini ada pula hal yang membuatku sedih ketika terlihat jelas antara hutan yang sangat lebat dengan hutan yang kini sudah menjadi lahan pertanian seolah hutan ini disapu bersih. Sambil menikmati pemandangan dikarenakan perut sudah menuntut dan kalau tidak segera diisi dikhawatirkan akan berdampak negatif. Kita langsung menuju gubuk yang dibuat oleh petani untuk masak makan siang ini, kayu bakar mulai dinyalakan dan baru disadari ternya ta kawanku Ian ini kakinya sudah berdarah akibat digigit pacet, tanpa ada rasa kaget kita masih sempet-sempetnya bercanda tertawa seperti mendapatkan sesuatu yang menguntungkan, memang kita ini tak pernah sedih baik senang maupun susah tetap saja canda dan tawa menyertai. Ternyata bukan Ian saja yang terkena pacet, saya juga terkena empat gigitan tapi tak sampe berdarah seperti kawanku Ian yang satu ini. Rasa capek dan kesal menunggu nasi masakpun rasanya terobati ketika kita menikmati kebesaran tuhan, indahnya alam ini memang harus kita jaga. Semua patut kita syukuri dengan memanfaatkan dan menjaganya secara baik.
Akhirnya semua sudah siap makan namun lagi-lagi baru disadari ternyata kita cuman membawa dua sendok saja, ini merupakan pelajaran bagi kami untuk selalu teliti dan mengecek kebutuhan sebelum melaksanakan kegiatan. Walaupun hanya hal kecil tapi ini menjadi pelajaran yang berharga. Cuaca mulai cerah kembali sebatang rokok kita habiskan setelah selesai makan dan melanjutkan perjalanan kembali karena hari sudah mulai menjelang sore dan kita harus sudah sampai camp sebelum gelap.
Perjalanan jauh yang cukup melelahkan akan tidak tersa capek kalau kita jalani bersama dan terobati dengan pemandangan yang sangat indah. Dan tak lama dari tempat kita makan akhirnya kita sampai juga di target selanjutnya bumi perkemahan Palutungan. Sedih rasanya saat melihat buper ini yang dulu rimbun dan sekarang sudah semakin rusak, selain itu tetap saja ada yang memanfaatkan tempat ini untuk dijadikan tempat maksiat dengan memanfaatkan kesepian jauh dari aktivitas manusia. Hanya sekedar istirahat dan menikmati kopi hangat. Tak lama beristirahat kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju target akhir Lembah Cilengkrang, tak sabar rasanya ingin cepat sampai karena selain hari sudah mulai gelap, ingin cepat-cepat juga untuk berendam di pemandian air panas.
Melintasi pemukiman, desa Palutungan yang mayoritas pekerjaanya sebagai petani dan peternak sapi perah. Seolah tanpa henti mereka beraktivitas untuk mempertahankan hidupnya sebelum hari gelap, ini lah perjuangan hidup yang sebenarnya, patut kita pelajari semangat yang mereka miliki, sungguh malu kalau kita berkaca diri yang terlalu banyak mengeluh dan sedikit-sedikit mengadu.
Mulai lagi memasuki jalan setapak di tengah-tengah ladang yang banyak dengan persimpangan, dan perdebatan kecil terjadi saat memilih jalan. Lagi-lagi walaupun sudah berapa kali melintasi jalur ini kita salah ambil jalan lagi dan berputar di antara ladang-ladang, hujanpun turun deras dan membasahai seluruh tubuh kita yang sudah mulai mengering akibat hujan yang tadi siang, namun seperti biasa yang kita lakukan hanya tertawa dan bercanda untuk menghilangkan rasa lelah. Sedikit berputar dan gak jelas akhirnya sampai juga di lokasi tepat waktu sesuai yang kita rencanakan. Tak menunggu lama langsung kita berendam meregangkan otot kita yang sudah mulai kejang akibat capek dan dingin yang menusuk.
Sedikit rasa cemas datang ketika salah satu teman kita tak kunjung datang dibelakang sendirian karena hari yang sudah mulai gelap, hujan dan track yang banyak melintasi sungai. Ternyata dia (Asep wapex) memang kawanku yang bisa diandalkan ternya ta setelah lumayan lama akhirnya dia datang juga dengan membawa kayu bakar untuk persediaan malam. Rencana untuk ngecamp di curug pun gagal ketika kita pikir selain perlengkapan yang kita bawa dibawah standar, salah satu kawanku kambuh penyakit diperutnya dan lupa membawa obat, sungguh pelajaran yang patut kita renungkan betapa pentingnya persiapan itu dan kita harus bisa mengambil keputusan ketika sesuatu hal yang kita tidak inginkan datang.

kode etik pecinta alam se-indonensia
kegiatan sismakala
sejarah mendaki gunung
survival
LOMBA LINTAS ALAM SISMAKALA 2009
EDUKASI
DAFTAR GUNUNG DI INDONESIA
MANAJEMEN PERJALANAN
TIPS MENDAKI GUNUNG UNTUK PEMULA 
KEPECINTA ALAMAN